Rabu, 16 Maret 2011

Antara fenomena 'Supermoon' vs bencana alam!! Benarkah???


Dibeberapa situs internet banyak dibicarakan tetang supermoon. Peristiwa alam yang langka tersebut akan terjadi
pada malam 19 atau 20 Maret 2011 di
Indonesia, akan membuat
purnama tampak lebih besar.
Saat itu, bulan akan terlihat 7
persen lebih gemuk dari
biasanya.

Pakar astronomi dari Lembaga
Penerbangan dan Antariksa
Nasional Thomas Djamaluddin
mengatakan, pembesaran bulan
itu akan tampak biasa saja jika
dilihat dengan kasat mata. Tapi
dengan teleskop, perbedaan
ukuran bulan itu akan terlihat.
"Sekitar 7 persen lebih besar
dari purnama biasa," ujarnya,
Rabu (16/3).

Fenomena itu akibat bulan yang
tengah mencapai puncak
purnama sedang dalam jarak
terdekatnya dengan bumi.
Dalam istilah astrologi, kejadian
itu disebut super moon. Kejadian
langka itu hanya berulang setiap
18 tahun sekali.

Berdasarkan data astronomi,
pada Sabtu, 19 Maret pukul
19.10 GMT atau Ahad, 20 Maret
pukul 02.10 WIB, jarak bulan
dengan bumi sejauh 356.577
kilometer. Jarak terjauh bulan
dengan bumi yang terjadi pada
Desember mendatang terentang
364 ribu kilometer.

Adapun
puncak purnama akan terjadi
satu jam sebelumnya, pada 19
Maret pukul 18.11 GMT atau 20
Maret pukul 01.11 WIB.
Selain terkesan seperti
membesar, fenomena
supermoon perlu diwaspadai
karena efek pasang surut laut
akan menguat. Nelayan dan
warga pesisir diminta berhati-
hati karena potensi banjir
pasang (rob) diperkirakan bakal
lebih besar dari biasanya.

Djamaluddin meminta nelayan
tidak melaut jika pasang tinggi
yang disertai cuaca buruk.

Apakah ada kaitannya dengan bencana alam??

Gempa dan tsunami besar yang melanda Jepang, Jumat 11 Maret 2011 kemarin, disebut-sebut berhubungan dengan fenomena ‘supermoon’ atau ‘lunar perigee,’ yaitu fenomena mendekatnya bulan ke bumi yang sedang terjadi saat ini.
Isu supermoon akhir- akhir ini mengemuka di sejumlah media internasional.

Sejumlah kalangan meyakini bahwa fenomena ini mengakibatkan bencana alam hebat seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Gempa bumi 8,9 Skala Ritcher dan tsunami 13 kaki yang menghantam Jepang kemarin, seperti mengkonfirmasi teori supermoon ini. Namun, hal itu dibantah oleh pakar gempa dari Pusat penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja. Menurutnya, supermoon bukan penyebab utama terjadinya gempa bumi di Jepang.

Danny menegaskan, kaitan antara supermoon dan bencana alam tidak memiliki dasar ilmiah. “Masih banyak unsur mistiknya daripada ilmiahnya. Kita masih perlu melakukan peninjauan yang lebih ilmiah mengenai hal itu, ” kata Danny ketika dihubungi VIVAnews, Sabtu 12 Maret 2011.

Namun, Danny mengakui gejala supermoon memang bukan berarti harus diabaikan sama sekali. Hal itu masih cukup penting untuk diperhatikan, dalam artian kajian ilmiah lebih lanjut penting untuk dilakukan. “Kita harus menggunakan penelitian ilmiah sebagai patokan. Jangan berpatokan pada mitos-mitos atau hal-hal yang sifatnya mungkin kebetulan, ” ujarnya.

Semoga artikel diatas bisa bermanfaat dan masalah bencana alam itu semua kuasa Tuhan. Maka dari itu kita berdoa semoga alam ini tetap damai sentosa, tentrem adem ayem. Amin

Di kutip dari
Vivanews.com 12-3-2011 , tempointeraktif.com 16-3-2011 dan berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar